Breaking News
Upaya Tekankan Inflasi, Perdagrin Kota Bengkulu Rutin Pantau Pengawasan Harga Bahan Pokok Bengkulu,Beritarafflesia.Com-Sebagai upaya menekan laju inflasi di Kota Bengkulu. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perdagrin) Kota Bengkulu rutin melaksanakan pengawasan harga barang pokok di tiga pasar, yakni pasar panorama, pasar minggu dan pasar barukoto. Berdasarkan pantauan tim Perdagrin, Rabu (21/2). Belum ada kenaikan kembali harga-harga bahan pokok, dalam artian masih merupakan harga terakhir kemarin. “Ada satu komoditi yang mengalami penurunan sebesar Rp10 ribu/per kilo, yaitu cabai merah keriting. Untuk saat ini harga bahan pokok dengan komoditi cabai merah keriting, cabai jawa, cabai rawit memang masih masuk kategori tinggi,” jelas Kabid Pengembangan Perdagangan Disperdagrin Erika Ariesanti. Adapun penyebab masih tingginya harga cabai ialah curah hujan yang cukup tinggi di beberapa wilayah penghasil komoditas tersebut, sehingga menyebabkan panen cabai mengalami gangguan atau tak berhasil panen dengan maksimal. Untuk beras, Erika mengatakan komoditi tersebut harganya masih cukup tinggi. Sebab, beras yang ada di Kota Bengkulu berasal dari Lampung, dan menurut informasi terakhir panennya tak sesuai harapan, sehingga untuk pemenuhan kebutuhan beras di luar Lampung menjadi terkendala termasuk distribusi beras ke Kota Bengkulu pun terpengaruh. “Menyiasati harga beras yang naik, ada pilihan beras murah saat ini yakni beras SPHP milik Bulog, 1 karung (5 Kg) diharga Rp57.500,” ujarnya Terkait hal ini, kata Erika, masyarakat bisa mempertimbangkan untuk belanja atau membeli beras, beras SPHP ini. Beras SPHP ini, selain ada di warung ada juga di toko-toko tertentu seperti di Hypermart dan toko lainnya. Kemudian menjelang ramadan, seperti biasa pihak Disperdagrin juga terus melakukan pemantauan ke lapangan, memantau kenaikan kebutuhan pokok. Paling tidak dari pemantauan nantinya, jangan sampai ada spekulan yang sengaja ingin mencari untung dalam kondisi menjelang ramadhan dan lebaran nantinya.(BR1) Pemprov Bengkulu ; Kesehatan Jadi Tanggung Jawab Bersama Penanganan Longsor Liku 9, Pemprov Bengkulu: Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan Diakomodir KLHK Pemprov Bengkulu Rencanakan Anggaran Hibah Melalui Sipanggar Baja Pasca Pencoblosan, Gubernur Rohidin Sebut Pemilu 2024 Berjalan Kondusif

Dinkes Lakukan Berbagai Upaya Percepatan Penurunan Stunting Kota Bengku

 Bengkulu,Beritarafflesia.Com-Pemerintah telah menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dengan target penurunan yang signifikan dari kondisi 24,4% pada 2021 menjadi 14% pada 2024.

Strategi penurunan angka stunting juga sudah ditetapkan dalam strategi nasional percepatan penurunan stunting sesuai PP No 72 Tahun 2021. Peraturan Pemerintah tersebut mendorong sejumlah langkah, seperti peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan terkait program penurunan angka stunting di kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan pemerintah desa.

Di Kota Bengkulu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu juga melakukan berbagai intervensi percepatan penurunan stunting. Seperti halnya yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu.

Dinkes melakukan berbagai upaya percepatan penurunan stunting di Kota Bengkulu, yang mana target prevalensi menjadi satu digit bahkan zero stunting.

“Upaya kita sama seperti sebelumnya, kita memberikan pil FE kepada remaja putri, calon pengantin. Kemudian untuk ibu pasca hamil kita lakukan pemeriksaan rutin. Sebelum itu, kita juga memantau perkembangannya saat hamil. Setelah melahirkan kita juga memantau perkembangannya hingga anak tersebut berusia 2 tahun,” jelas Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Joni Haryadi Thabrani, Rabu (24/1).

Untuk penanganan stunting, lanjut Joni, pihaknya juga akan memeriksa anak-anak diduga terindikasi stunting. Pasalnya, ada ditemukan balita pendek, namun tidak terindikasi stunting.

“Rencananya akan kita periksakan ke dokter spesialis anak untuk memastikan anak tersebut sehat atau tidak. Apakah masih dikatakan stunting atau tidak, nah nanti hasil dari dokter spesialis tersebutlah akan kita masukkan dalam kesimpulannya,” jelas Joni.

“Karena balita pendek itu belum tentu stunting, tapi stunting itu pasti pendek. Nah jadi itu nanti dokter spesialis yang menilai dan menyimpulkannya. Kalau dia sekedar pendek aja ya udah, asal dia fisiknya sehat, aktivitasnya normal tentu itu bukan dikatakan stunting,” sambungnya.

Sebagai informasi, prevalensi stunting di Kota Bengkulu turun tajam, dari  22,2 persen di tahun 2021 menjadi 12,9 persen di  2022, turun 9,3 persen. (Br1)