Fenomena Taruhan Bola Pada Piala Dunia 2022 Dalam Kacamata Teori Komunikasi

Penulis    :  Sigit Bakuni

NPM         :  D2E022016

Prodi        :  Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu

No Hp       :  0853 2000 3803

Email       :   bakaunisigit@gmail.com

Alamat     :  Desa Talang Durian, Kec. Semidang Alas, Kab. Seluma

Identitas   :  KTM, KTP, Foto.

 Bengkulu, Beitarafflesia.com- Sebagai perhelatan sepak bola terbesar yang diadakan oleh FIFA, piala dunia merupakan momen yang paling dinantikan oleh penikmat sepak bola. Sama seperti edisi sebelumnya, pada piala dunia 2022 yang lalu, semua kalangan larut dalam euforia keceriaan, mulai dari orang tua, dewasa, remaja, dan anak-anak kecil sekalipun ikut bergembira menyambut piala dunia. Bahkan, salah satu desa di Ambon dihiasi bendera negara peserta piala dunia. Tidak hanya di kota, tapi juga di desa masyarakat antusias menonton siaran langsung piala dunia. Masyarakat di desa rela membeli tv berlangganan demi memenuhi keinginan mereka menyaksikan piala dunia, hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan ketika hari biasa.

Namun, kemeriahan dan keceriaan dalam ajang sepak bola terbesar itu kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk keuntungan dari kegiatan taruhan bola. Dikutip dari Barclays Plc, sebanyak Rp 574 triliun dipertaruhkan pada piala dunia 2022. Ada banyak situs judi yang digunakan oleh para oknum untuk melancarkan kegiatannya. Selain itu, mereka juga melaksanakan judi secara pribadi dengan nominal tertentu. Kegiatan semacam itu tentu berakibat buruk tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara emosional karena akan banyak dampak yang ditimbulkannya. Salah satu contoh buruknya yaitu, pria di Sitaro, Sulawesi Utara membakar rumah sendiri karena menang taruhan piala dunia Rp 200 ribu. Selain itu, kalangan mahasiswa juga sering kali tergiur dengan taruhan bola di situs internet. Seharusnya, mereka dapat menggunakan uang dari orang tua untuk biaya hidup selama kuliah tetapi mala disalahgunakan. Kemudian, contoh lainnya ada beberapa masyarakat yang membanting tv karena tim kesayangannya kalah. Dari segi ekonomi tentu taruhan bola sangat merugikan, nominal berapapun pasti akan ludes karena sejatinya taruhan adalah judi tidak ada jaminan kemenangan dan sebaliknya kekalahan di depan mata. Beberapa kejadian tersebut bisa dihindari jika tumbuhnya kesadaran dalam diri kita, sebab pihak yang berwenang pun akan kewalahan jika ingin mengawasi sekian banyak pelaku judi bola. Sekalipun diawasi para pemain dan bandar judi akan tetap ada, untuk pentingnya kesadaran dalam diri sendiri untuk kebaikan diri sendiri, ekonomi, dan mental sebagai ciri pendewasaan.

Berkaitan dengan fenomena di atas maka, hal ini termasuk ke dalam teori agenda setting yang dikembangkan oleh Mc Combs dan Shaw (1972). Teori Agenda Setting beranggapan apabila media memberikan tekanan pada suatu peristiwa maka, media tersebut akan membuat masyarakat menganggap peristiwa itu penting. Dalam hal ini, media mempunyai efek yang sangat kuat dalam memberitakan hal yang berkaitan dengan piala dunia untuk mempengaruhi asumsi masyarakat. Sehingga akan muncul asumsi bahwa apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting oleh masyarakat, alhasil masyarakat tertarik dan menyambut pada piala dunia tersebut. Media di era sekarang banyak berjamuran, mulai dari media konvensional, elektronik, radio sampai kepada media online. Media in sangat mempengaruhi peningkatan judi bola dengan kemudahan dalam penawaran dan akses di manapun selain itu, munculnya iklan di beberapa media sosial ikut menjadi faktor penyebabnya.

Kesimpulan, perhelatan sepak bola piala dunia merupakan hal yang paling dinanti oleh hampir semua kalangan. Sebanyak Rp 574 triliun dipertaruhkan pada piala dunia 2022. . Masyarakat di desa rela membeli tv berlangganan demi memenuhi keinginan mereka menyaksikan piala dunia. Namun, kemeriahan dan keceriaan dalam ajang sepak bola terbesar itu kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk keuntungan dari kegiatan taruhan bola. Taruhan bola berakibat buruk tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara emosional karena akan banyak dampak yang ditimbulkannya. Salah satu contoh buruknya yaitu, pria di Sitaro, Sulawesi Utara membakar rumah sendiri karena menang taruhan piala dunia Rp 200 ribu. Fenomena di atas maka, hal ini termasuk ke dalam teori agenda setting yang dikembangkan oleh Mc Combs dan Shaw (1972). Teori Agenda Setting beranggapan apabila media memberikan tekanan pada suatu peristiwa maka, media tersebut akan membuat masyarakat menganggap peristiwa itu penting. Dalam hal ini, media mempunyai efek yang sangat kuat dalam memberitakan hal yang berkaitan dengan piala dunia untuk mempengaruhi asumsi masyarakat

Lampiran Identitas: