Uncategorized

Jelang Peresmian PLTU, #BersihkanIndonesia Makin Gencar Protes

Beritarafflesia.com – Jelang peresmian PLTU Teluk Sepang, protes terus berdatangan.

Bukan tanpa sebab, terdapat beberapa hal yang dinilai ‘mengganjal’ atas pembangunan proyek ini. Pertama, dokumen AMDAL PLTU Teluk Sepang tidak sesuai dengan lokasi yang tercantum di RTRW, yakni Napal Putih Bengkulu Utara. Kedua, kekhawatiran masyarakat atas pengaruh pembangunan dengan biota hayati di Bengkulu. Salah satu bukti yang semakin menguatkan kekhawatiran masyarakat yakni kematian puluhan penyu di sekitar lepas pantai Bengkulu baru-baru ini.

“Jika PLTU Teluk Sepang tetap diresmikan maka akan merusak biota laut sebab Pantai Bengkulu merupakan bagian dari pantai barat Sumatera yang masuk dalam kategori laut yang kaya akan keanekaragaman hayati,” kata Jurubicara #BersihkanIndonesia dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting.

Pius Ginting mengingatkan bahwa daerah ini masuk ke dalam daerah yang termasuk dalam kategori Convention on Biological Diversity (CBD) menamai daerah ini sebagai Upwelling Zone of the Sumatra-Java Coast, dan dimasukkan ke dalam daerah ecologically or biologically significant marine areas (EBSAs). EBSA memiliki siginifikansi lebih tinggi terhadap satu atau lebih spesies dari ekosistem dibandingkan dengan daerah lainnya. Artinya, banyak keragaman hayati yang terancam dan perlu dilindungi.

Proyek ini didanai oleh investor dari Tiongkok yakni Power China dan PT Intraco Penta Tbk. Di wilayah negara Tiongkok sendiri, pemerintah telah menutup segala pembangunan PLTU dengan bahan bakar batu bara.

“Pembangunan ini jelas tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem. Lihatlah, saat ini telah terjadi kematian 28 penyu,” ucap Pius.

Yayasan Kanopi Bengkulu meyakini bahwa kematian puluhan penyu tersebut merupakan dampak nyata dari bahaya limbah air bahang yang dikeluarkan PLTU Teluk Sepang. Lantaran, hewan-hewan dilindungi ini ditemukan mati tak jauh dari saluran pembuangan limbah Teluk Sepang.

Memang, pemerintah memberikan klarifikasi bahwa kematian puluhan penyu di Bengkulu ini disebabkan oleh bakteri Salmonella sp dan Clostridium sp, Namun, hasil ini meragukan bagi bahak pihak.Sebab berdasarkan keterangan dari lembaga konservasi internasional, Lampedusa Sea Turtle Rescue Center, Italia, kedua jenis bakteri ini umum terdapat di penyu laut tetapi daya patogenitasnya rendah pada penyu.

Atas kerusakan yang tekah ditimbulkan, banyak pihak yang meminta proyek tersebut dihentikan.

“Kami meminta KLHK mengeluarkan surat rekomendasi untuk menunda operasi PLTU Teluk Sepang karena dampak yang telah ditimbulkannya. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan udara bersih bagi masyarakat Bengkulu dengan tidak melanjutkan operasi PLTU kotor tersebut,” ujar Ali Akbar, Juru bicara #BersihkanIndonesia dari Kanopi Bengkulu.

Semoga pemerintah dapat memberikan solusi nyata atas permasalahan yang seharusnya menjadi kekhawatiran kita bersama ini.

Share this:

Related posts

Surat Edaran Bupati Seluma, Wisata Tutup Selama lebaran

Berita rafflesia

Hasil Reses Dewan Provinsi Hamka Sabri: Eksekutif Siap Tindak Lanjuti

Berita rafflesia

Kunjungan Kerja Ke-BS Kapolda Bengkulu Resmikan Lapangan Tembak

Berita rafflesia

Leave a Comment